The Kingdoms of Stars
Permulaan
Sebuah cerita tentang dua orang anak manusia
yang pada akhirnya harus memenuhi takdirnya. Apakah takdir itu menyedihkan atau
malah akhir yang bahagia.
Dimulai dari sebuah kejadian 18 tahun yang
lalu. Sebuah malam yang sangat dingin, di mana hujan turun dengan derasnya.
Langit berwarna hitam dan tak ada bintang yang terlihat. Bulan pun tak
menampakkan wujudnya. Di sebuah rumah kecil sepasang suami istri saling
berpelukan dengan tubuh gemetar. Raut wajah mereka terlihat ketakutan. Entah
ini akibat dari situasi alam yang sedang buruk atau kah yang lain.
Di tempat lain, di sebuah rumah yang sangat
mewah bak istana, berkumpul banyak orang dengan memakai pakaian mewah, makanan
dan minuman mahal dan enak tersaji di meja – meja. Suara musik mengalun dengan indahnya.
Suatu kondisi yang berbeda dari rumah yang pertama.
Langit entah kenapa seperti mengeluarkan
percikan – percikan seperti kilat tanpa ada suara petir satu pun. Langit seolah
– olah memercikkan kilauan cahaya yang begitu indah. Semua orang yang ada di
rumah mewah itu melihat hal tersebut dan takjub. Mereka tidak tahu yang
sebenarnya terjadi.
Di atas langit ternyata terjadi pertarungan
antara Corvus sang pemuda tampan dan Aquilla si jendral cantik nan memesona. Corvus
ternyata melakukan kejahatan besar di kerajaan Konstelasi bintang. Dia menikam Ophiucus
hingga sekarat. Ophiucus adalah sang penyembuh di kerajaan Konstelasi Bintang. Corvus
kabur dari kerajaan dan dikejar oleh Aquilla. Kedua bertempur sekuat tenaga.
“Sungguh berani kau! Aku tak akan mengampunimu!”
ujar Aquilla. Ophiucus adalah sahabat Aquilla. Dia juga telah mendapat mandat
dari kaisar bintang untuk membunuh Corvus. Aquilla yang juga adalah jenderal
kerajaan Konstelasi Bintang langsung menjalankan perintah tersebut.
“Dasar pelayan murahan! Kerajaan sudah
menjadikanmu seperti pelayan mereka saja. Kau jangan mau diperdaya oleh mereka.
Kita bisa jadi sekutu dan membuat kerajaan bersama yang lebih kuat.” Kata
Corvua mencoba membujuk Aquilla.
“Aku tak akan jadi penghianat sepertimu,
Corvus. Walaupun kita teman tapi jalan kita sudah berbeda. Ke mana pun kau
pergi aku akan mengejarmu. Mandat telah diturunkan padaku untuk membunuhmu.
Jadi maafkan aku, kawan.”
Keduanya terus bertempur dan terus memercikkan
cahaya di langit akibat gesekan dari pedang keduanya.
Pertarungan keduanya ini adalah memang sudah
diprediksi Corvus. Selama pertarungan laki – laki itu tersenyum walaupun
tubuhnya terluka akibat sabetan pedang Aquilla. Di tempat lain, di kerajaan
bintang, Hydra sang penasehat kerajaan sedang berlari menuju ruangan kaisar
bintang. Dia membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati sang kaisar yang
berdiri menghadap jendela dengan kedua tangannya ia silangkan ke belakang. “Yang
Mulia! Apa benar Anda memerintahkan Aquilla untuk mengeksekusi Kapten Corvus?
Dia adalah orang yang berjasa bagi kerajaan kita. Bagaimana hanya karena satu
kesalahan, Anda memerintahkan Jendral untuk menghabisi Kapten Corvus. Tolong
pertimbangkan kembali masalah ini!” ujar sang Penasehat Hydra.
Sang kaisar menghela napas panjang. “ Kapten
Corvus memang berjasa besar besat bagi kerajaan ini. Tapi kejahatannya menutupi
kebaikan yang telah ia lakukan. Aku tidak bisa mentolerir sebuah kejahatan
pembunuhan. Apalagi yang menjadi korban adalah Sang Penyembuh.”
“Tapi tuanku Ophiucus masih hidup. Itu berarti
tidak ada pembunuhan yang terjadi. Berilah Kapten Corvus hukuman lain, Yang
Mulia! Jangan engkau beri ia hukuman mati.” Pinta Hydra sambil menundukkan
tubuhnya di hadapan kaisar bintang.
“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kau
pergilah. Aku, kaisar Cygnus, tak akan menarik kembali perintah yang telah aku
titahkan.” Ujar sang kaisar.
Hydra kemudian dengan perasaan kecewa pergi
meninggalkan ruangan kaisar bintang dengan wajah yang sedih.
Di lain tempat, pertarungan antara Aquilla dan
Corvus masih terjadi. Keduanya tetap bertarung tak peduli luka yang mereka
derita sedangkan di rumah, di mana sepasang suami istri yang sedari tadi
berpelukan ketakutan mencoba meredam rasa takut mereka karena cuaca yang tak
bersahabat dengan ditambah rumah mereka yang kecil dan tua. Ternyata, sang
istri sudah akan melahirkan. Sang istri berteriak kesakitan sambil memegang
perutnya yang membesar. Sang suami terlihat kebingungan. “Sayang.....bertahanlah!
Kita akan segera ke rumah sakit. Tarik napas panjang!” sembari menirukan gaya
bernapas wanita yang biasa akan melahirkan. Si istri berusaha menahan rasa
sakit yang luar biasa. Di tempat yang berbeda, istri dari keluarga yang kaya
sepertinya juga akan melahirkan.
“Sayaaaaaang!” teriak si istri dari dalam kamar
tidur yang terdengar hingga ke balkon rumah, di mana semua orang berkumpul
menyaksikan peristiwa menakjubkan yang ada di angkasa. Si suami yang mendengar
teriakan si istri bergegas berlari ke kamar tidur. Si suami membuka pintu kamar
dan mendapati istrinya terduduk di lantai dengan air ketuban yang pecah.
Di langit, pertarungan antara Aquilla dan
Corvus masih terjadi. Keduanya saling mengeluarkan kekuatan masing – masing. Di
saat itulah terjadi sesuatu yang tak diduga. Akibat kekuatan, yang ada
pada pedang keduanya, yang dikeluarkan terlalu kuat menyebabkan cahaya
yang luar biasa terpancar dari pertemuan kedua pedang. Pancaran cahaya itu mendorong
Corvus dan Aquilla menjadi cahaya berwarna biru dan hitam. Kedua cahaya itu
terpencar jauh terpisah.
No comments:
Post a Comment